Mengenal Membranophone: Apa Itu Sebenarnya Alat Musik Tabuh Ini?

Table of Contents

Pernahkah kamu melihat atau memainkan alat musik seperti gendang, drum kit, atau rebana? Nah, alat musik yang punya selaput atau membran yang diregangkan di salah satu atau kedua sisinya dan menghasilkan bunyi saat dipukul atau digesek itulah yang kita sebut membranophone. Ini adalah salah satu keluarga besar alat musik di dunia, dan mungkin yang paling familiar bagi banyak orang setelah alat musik senar.

Intinya, membranophone adalah alat musik di mana suara utama dihasilkan oleh getaran sebuah membran yang diregangkan. Membran ini seringkali disebut drumhead atau kulit gendang, meskipun materialnya tidak selalu dari kulit hewan.

Contoh Alat Musik Membranophone

Mekanisme Penghasil Bunyi pada Membranophone

Bagaimana sih bunyi itu bisa keluar dari membranophone? Prinsipnya sebenarnya cukup sederhana. Saat membran dipukul, baik itu menggunakan tangan, stik, mallet, atau bahkan digesek, membran tersebut akan bergetar. Getaran ini kemudian menggerakkan udara di sekitarnya, menciptakan gelombang suara yang sampai ke telinga kita.

Tinggi rendahnya nada yang dihasilkan (pitch) bisa bervariasi tergantung beberapa faktor. Pertama, ketegangan membrannya. Semakin tegang membrannya, biasanya nada yang dihasilkan semakin tinggi. Kedua, ukuran membran. Membran yang lebih besar cenderung menghasilkan nada yang lebih rendah dibandingkan membran yang lebih kecil jika ketegangannya sama. Ketiga, bahan membran dan bentuk badan resonansi (tabung, mangkuk, atau bentuk lain di bawah membran) juga berpengaruh besar pada warna suara atau timbre alat musik tersebut.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suara

Ada beberapa elemen kunci yang menentukan karakter suara sebuah membranophone. Membran itu sendiri adalah yang paling utama. Dulu, membranophone tradisional sering menggunakan kulit hewan yang dikeringkan dan diregangkan, seperti kulit sapi, kambing, atau kerbau. Setiap jenis kulit dan cara pengolahannya bisa memberikan nuansa suara yang berbeda.

Seiring waktu, bahan sintetis seperti plastik Mylar (bahan dasar untuk banyak drumhead modern) menjadi populer karena lebih stabil terhadap perubahan suhu dan kelembapan, serta lebih tahan lama. Bahan badan resonansi alat musik juga sangat krusial. Kayu, logam, tanah liat, atau bahkan bahan modern seperti fiberglass bisa digunakan untuk membuat tabung atau mangkuk tempat membran dipasang. Bentuk dan volume badan resonansi ini berfungsi memperkuat dan mewarnai getaran dari membran.

Cara memainkan juga sangat mempengaruhi suara. Memukul dengan telapak tangan, ujung jari, bagian samping tangan, atau menggunakan stik dengan material dan ketebalan berbeda akan menghasilkan pukulan dan attack suara yang berbeda-beda. Menggesek, memukul dengan sikat kawat, atau bahkan menggunakan teknik muffling (meredam sebagian getaran membran) bisa menghasilkan suara yang sangat beragam dari satu alat musik yang sama.

Klasifikasi Membranophone Berdasarkan Sistem Hornbostel-Sachs

Sistem klasifikasi alat musik yang paling umum digunakan oleh para etnomusikolog adalah sistem Hornbostel-Sachs. Dalam sistem ini, membranophone termasuk dalam kelompok instrumen di mana suara utamanya dihasilkan oleh getaran membran. Sub-klasifikasi lebih lanjut didasarkan pada bentuk badan resonansi dan cara memasang membrannya.

Berikut adalah beberapa sub-kategori utama dalam sistem Hornbostel-Sachs untuk membranophone:

  1. Drum Tabung (Tubular Drums): Ini adalah jenis yang paling umum. Membran dipasang pada satu atau kedua ujung sebuah tabung. Tabungnya bisa berbentuk silinder lurus, kerucut, atau bahkan seperti jam pasir.
    • Silinder: Tabung lurus seperti drum snare, bass drum, tom-tom.
    • Kerucut: Tabung yang mengerucut, misalnya beberapa jenis gendang tradisional.
    • Bentuk Jam Pasir (Hourglass): Tabung yang bagian tengahnya menyempit, seperti kendang batangan (di Indonesia) atau djembe (Afrika Barat) yang dimainkan di ketiak.
    • Bentuk Tempayan/Piala (Goblet): Tabung yang bagian bawahnya lebih sempit dari bagian atas (tempat membran), seperti darbuka (Timur Tengah) atau djembe modern yang berdiri.
    • Bentuk Barrel/Gendang (Barrel/Cask): Tabung yang bagian tengahnya lebih lebar dari ujungnya.
    • Bentuk Kerangka (Frame Drums): Membran diregangkan di atas sebuah bingkai atau kerangka datar, seringkali dangkal. Contohnya adalah rebana, tamborin (yang ada jingle-nya), atau bodhrán (Irlandia). Bingkai ini bisa berbentuk bulat, persegi, atau bentuk lain.
    • Gesek (Friction Drums): Membran digesek menggunakan tangan, tali, atau tongkat yang terhubung dengan membran, bukan dipukul langsung. Contohnya adalah cuíca (Brazil) atau beberapa jenis lion’s roar.
    • Drum Beresonansi (Kettle Drums / Timpani): Membran diregangkan di atas sebuah mangkuk besar berbentuk setengah bola (biasanya dari tembaga). Ini adalah satu-satunya jenis drum dalam orkestra klasik yang bisa menghasilkan nada pasti (pitched). Timpani modern bahkan dilengkapi pedal untuk mengubah ketegangan membran dengan cepat dan akurat, sehingga bisa dimainkan nada-nada yang berbeda.

Klasifikasi ini membantu para ahli musik untuk memahami hubungan antar alat musik dari berbagai budaya dan sejarah. Meskipun namanya berbeda-beda di setiap daerah, prinsip dasar dan bentuknya seringkali mirip dan masuk dalam kategori yang sama.

Contoh Alat Musik Membranophone dari Berbagai Belahan Dunia

Membranophone ada di hampir setiap budaya di seluruh dunia, menunjukkan betapa pentingnya alat musik ini dalam sejarah manusia. Setiap budaya punya ciri khas dan namanya sendiri untuk alat musik drum mereka.

Beberapa contoh populer meliputi:

  • Drum Kit (Barat): Ini adalah ansambel drum yang paling dikenal di musik modern seperti rock, pop, jazz, dan blues. Biasanya terdiri dari snare drum (dengan senar di bawahnya), bass drum, tom-toms (berbagai ukuran), dan simbal (meskipun simbal adalah idiophone, drum kit sering dianggap satu kesatuan). Dimainkan menggunakan stik, brush, atau mallet.
  • Kendang (Indonesia): Alat musik tradisional Indonesia, terutama di Jawa, Sunda, dan Bali. Bentuknya tubular (barrel atau hourglass). Biasanya dimainkan berpasangan (kendang gede dan kendang kecil) atau dalam ansambel Gamelan. Dimainkan menggunakan telapak tangan dan jari dengan berbagai teknik pukulan untuk menghasilkan ritme yang kompleks dan dinamis.
  • Tabla (India): Pasangan drum kecil dari India Utara. Terdiri dari tabla (drum yang lebih kecil, nada tinggi, dimainkan dengan tangan kanan) dan bayan (drum yang lebih besar, nada rendah, dimainkan dengan tangan kiri, bisa menghasilkan nada bervariasi dengan menekan membran). Memainkan tabla adalah seni yang sangat tinggi dan membutuhkan koordinasi jari yang luar biasa.
  • Djembe (Afrika Barat): Drum berbentuk piala yang populer di seluruh dunia. Badan drum terbuat dari kayu yang dilubangi, dan membran biasanya dari kulit kambing. Dimainkan menggunakan tangan, dengan berbagai teknik pukulan di bagian tepi atau tengah membran untuk menghasilkan suara bass, tone, dan slap.
  • Bodhrán (Irlandia): Frame drum dari Irlandia. Bingkainya bulat dan dangkal, membrannya dari kulit kambing (tradisional) atau sintetis. Dimainkan menggunakan sejenis tongkat kecil (tipper atau beater) yang dipukul ke membran, sementara tangan lainnya diletakkan di bagian dalam membran untuk mengontrol nada dan timbre.
  • Conga dan Bongo (Kuba): Drum tinggi berbentuk conical (conga) dan drum kecil berpasangan (bongo). Keduanya dimainkan dengan tangan dan sangat penting dalam musik Latin seperti salsa dan rumba.

Masih banyak sekali jenis membranophone lainnya seperti taiko (Jepang), darbuka (Timur Tengah), tapan (Balkan), surdo (Brazil), dan masih banyak lagi. Setiap alat punya sejarah, teknik bermain, dan peran budaya yang unik.

Berbagai Bentuk dan Cara Memainkan

Seperti yang sudah disinggung di klasifikasi, membranophone punya banyak bentuk. Bentuk badan resonansi sangat memengaruhi resonansi dan proyeksi suara. Ada yang berbentuk silinder lurus (seperti drum modern), ada yang mengecil di tengah (jam pasir), ada yang bentuknya seperti piala atau gelas, dan ada juga yang hanya berupa bingkai datar.

Cara memainkan juga beragam:

  • Dipukul dengan Tangan: Ini adalah cara paling purba dan umum. Menggunakan telapak tangan, jari-jari, atau kombinasi keduanya. Contoh: kendang, djembe, conga, tabla, rebana.
  • Dipukul dengan Stik/Mallet: Menggunakan alat bantu untuk memukul membran. Stik drum, mallet bertutup kain, atau tongkat kayu/plastik lainnya. Material dan bentuk ujung stik/mallet sangat memengaruhi suara. Contoh: drum kit, timpani, taiko.
  • Digesek: Membran digesek dengan tangan basah, tali, atau tongkat yang menembus membran. Contoh: cuíca.
  • Ditiup/Diberi Udara: Sangat jarang, tapi ada membranophone yang menghasilkan suara dengan perubahan tekanan udara di dalam badan resonansi yang menggetarkan membran. Contoh: mirliton (seperti kazoo, meski sering dianggap membranophone, ini lebih mirip alat musik tiup di mana membran berfungsi memodifikasi suara).

Setiap teknik ini membutuhkan keterampilan dan latihan khusus. Bermain drum bukan sekadar memukul, tapi bagaimana mengontrol dinamika, ritme, dan bahkan nada (untuk drum yang pitched seperti timpani atau tabla).

Bahan Pembuatan Membranophone

Selain membran, bahan badan resonansi juga penting. Badan drum bisa terbuat dari:

  • Kayu: Paling umum digunakan untuk drum tradisional maupun modern. Jenis kayu yang berbeda (maple, birch, mahogany, oak, dll.) memberikan karakteristik suara yang berbeda. Kayu sering dibentuk menjadi silinder (plywood atau solid shell) atau dilubangi dari balok kayu utuh.
  • Logam: Misalnya aluminium, baja, atau kuningan. Digunakan untuk beberapa jenis drum, seperti timpani (biasanya tembaga) atau drum baja (steel drum - meskipun ini idiophone, kadang disamakan dengan drum karena bentuknya).
  • Tanah Liat/Keramik: Digunakan untuk drum tradisional di banyak budaya, misalnya darbuka (seringkali keramik atau logam sekarang). Material ini memberikan resonansi yang khas.
  • Bahan Sintetis: Fiberglass atau akrilik juga digunakan, terutama untuk drum modern, karena kuat, tahan lama, dan bisa memberikan suara yang berbeda.

Untuk membran itu sendiri, materialnya bisa:

  • Kulit Hewan: Kulit kambing, sapi, kerbau, kuda, atau bahkan ikan (untuk beberapa drum tradisional Jepang). Kulit ini diproses khusus agar kuat dan lentur saat diregangkan. Suaranya dianggap “hangat” dan organik.
  • Sintetis: Paling umum adalah plastik Mylar (jenis polyester). Sangat populer di drum modern karena stabil, tahan lama, dan bisa diproduksi massal dengan kualitas konsisten. Ada berbagai ketebalan dan lapisan yang memberikan suara berbeda (single-ply, double-ply, coated, clear, dll.).

Kombinasi bahan badan drum dan membran inilah yang menciptakan timbre atau warna suara yang khas dari setiap alat musik membranophone.

Sejarah dan Peran Budaya

Membranophone dipercaya sebagai salah satu jenis alat musik tertua di dunia. Artefak berupa drum primitif telah ditemukan di situs-situs arkeologi dari peradaban kuno. Drum mungkin awalnya digunakan untuk ritual keagamaan, komunikasi (misalnya drum bicara di Afrika), atau upacara militer.

Di banyak budaya, drum tidak hanya dianggap sebagai alat musik, tetapi juga memiliki makna spiritual atau simbolis. Mereka bisa menjadi pusat upacara, mengiringi tarian, atau digunakan untuk menyatukan komunitas. Ritme drum seringkali sangat penting dalam memandu tarian komunal atau menginduksi keadaan trans dalam ritual.

Dalam musik modern, membranophone, terutama drum kit, menjadi tulang punggung ritmis di hampir semua genre populer. Mereka memberikan dasar groove yang menggerakkan musik. Studio rekaman modern sangat memerhatikan kualitas suara drum karena perannya yang vital.

Menariknya, meskipun teknologi terus berkembang, drum tradisional tidak punah. Mereka tetap hidup dalam musik tradisional dan bahkan sering diintegrasikan ke dalam musik modern, menciptakan fusi suara yang menarik. Contohnya, penggunaan djembe atau conga dalam musik pop atau jazz.

Fakta Menarik tentang Membranophone

  • Drum tertua yang pernah ditemukan diperkirakan berasal dari Tiongkok Neolitik, terbuat dari kulit buaya yang diregangkan di atas bingkai kayu.
  • Di beberapa budaya Afrika, drum digunakan sebagai alat komunikasi jarak jauh. Mereka bisa menirukan nada dan ritme bahasa lisan (talking drums).
  • Timpani adalah satu-satunya drum dalam orkestra klasik yang bisa menghasilkan nada pasti dan sering digunakan seperti instrumen melodi atau harmonis, bukan hanya ritmis.
  • Sebuah drum kit standar bisa terdiri dari lebih dari selusin komponen drum dan simbal yang berbeda, masing-masing dengan suara uniknya.
  • Membranophone bisa disetel (tuned) dengan mengubah ketegangan membrannya. Ini bisa dilakukan dengan baut (pada drum modern) atau menggunakan tali, pasak, atau bahkan api (pada drum tradisional).

Membranophone adalah keluarga alat musik yang luar biasa kaya dan beragam. Mereka bukan hanya sekadar “penjaga tempo,” tetapi instrumen ekspresif yang mampu menyampaikan emosi, energi, dan cerita melalui kekuatan ritme dan suara.

Bagaimana, sekarang sudah ada gambaran ya tentang apa itu membranophone? Alat musik ini punya peran besar dalam sejarah musik dan budaya manusia di seluruh dunia.

Punya pengalaman main alat musik membranophone? Atau ada pertanyaan lain seputar drum dan sejenisnya? Yuk, bagikan pengalaman atau pikiranmu di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar